Selasa, 12 April 2016

DOSA APA YANG TELAH MEMBUAT MASYARAKAT INDONESIA TERUS MENDERITA


J
auh sebelum indonesia memproklamasikan diri menjadi negara merdeka, rakyat indonesia telah merasakan pahitnya penderitaan penjajahan dari negara-negara yang menjajahnya seperti belanda dan jepang. Pengalaman pahit ini lah yang membuat para pejuang rela mengorbankan harta dan nyawanya demi meraih kemerdekaan indonesia. Hal ini lalu terbukti dengan lahirnya tokoh-tokoh yang sangat menggebar-gemborkan semangat untuk meraih kemerdekaan kepada masyarakat. Contohnya saja Soekarno presiden pertama indonesia itu yang selalu menggunakan semboyan politis dan retorika manis di setiap pidatonya.
Yang membuat siraman lega pada masyarakat untuk terus meyujudkan kemerdekaan yang di cita-citakan selama ini. Namun tampa di sadari masyarakat lupa akan pertanyaan kritis bagaimana cara praktis agar menghilangkan penderitaan yang telah lama dirasakan masyrakat indonesia untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidup yang layak. Apakah setelah merdeka masyarakat harus terus berkorban? Ataukah masyarakat tinggal berpangku tanggan kepada pemimpin perjuangan dalam meyujutkan kemakmuran, kesejahteraan, keamanan serta kedamaian secara instan, bin salabin.
Sudah 69 tahun indonesia merasakan hidup merdeka dari penjajahan nyata dari negara-negara penjajah. Namun ternya hanya menorehkan prestasi buruk dari tahun ke tahunnya yang dirasakan mayoritas rakyat indonesia. Masyarakat miskin benar-benar di pelihara di negeri ini, terbukti kemiskinan semakin merata, pengaguran semakin bertumpuk, tindakan kriminalitas semakin meraja lela, pendidikan tak membuat masyarakat bermoral, kesehatan semakin mahal dan hutang negara semakin membengkak. Siapa yang harus bertanggung jawab atas hal ini. Pemerintah? apakah mungkin bisa para pemimpin negeri ini yang kebanyakan dari mereka adalah manusia bermoral bejat dan bermental serakah mengejar kesenangann nafsu dunia. apakah mungkin mereka mau bertanggung jawab atas semua permasalahan ini, Tidak! Mereka tidak akan mau. Mereka hanya bisa bilang agar masyarakat harus lebih sabar, karena negara-negara maju juga merasakan kesensaraan yang sangat lama sebelum menjadi negara yang maju. Apa lagi sekarang semua subsisdi yang dianggarkan pemerintah untuk kepentingan publik, seperti subsidi pendidikan, listrik, BBM, serta kegiatan ekonomi lainnya rencananya akan di cabut, dengan alasan pemerintah tidak sanggup lagi membiayai semua itu, karena peminpin kita tidak mau ikut dalam kesengsaraan yang rakyat rasakan saat ini. Jadi, dana APBN maupun APBD yang disiapkan untuk kesejahteraan rakyat, peningkatan pendidikan, serta pembinaan masyarakat, mau digunakan untuk apa? Lalu, untuk apa gunanya ada negara? Bila sudah tidak sanggup, lebih baik Negara di bubarkan saja dan InsyaAllah Khilafah siap menggantinya.
Sudah dapat kita pastikan bahwa tidak satu pun pihak yang mau mengakui secara jentelmen dan bertanggung jawab atas penderiatan dan kemelaratan  rakyat indonesia yang telah merdekah 69 tahun lalu itu. Yang jelas selama 69 tahun ini lah para pemimpin kita telah mencampakkan islam dan syari’atnya dalam mengatur kehidupan rumah tangga negara ini. Yang dengan sombongnya mereka menyatakan bahwa pemisahan agama dari kehidupan bernegara adalah solusi yang tepat untuk menyatukan seluruh masyarakat indonesia yang banyak menganut kepercayaan agama yang berbeda-beda.
Apakah mereka lupa bahwa islam adalah agama sebagai Rahmatan Lil’Allamin, yang aturannya di peruntukkan untuk seluruh manusia buakan saja umat islam semata-mata. Jelas bahwa kini penderitaan masyarakat indonesia terus dan terus di timpa penderitaan yang luar biasa. Di karenakan masyarakat indonesia telah melupakan syari’at islam. Kini tinggal kita apakah mau terus-menerus merasakan kesensaraan ini atau kembali pada islam dan syari’atnya menerapkan islam secara menyeluruh di dalam kehidupan ketata negaraan negara indonesia ini. Mungkin timbul pertanyaan mengapa harus syari’ah islam? Jawabnya simpel saja, memang ada hukum yang lebih baik dari hukum milik Allah yang memecahkan problem matika manusia dan kemanusiaan. Jangankan lebih baik, yang menyetarainya pun tidak ada.
Sebenarnya sampai hari ini pun indonesia tidak pernah merdeka, karena apa? Karena hari ini tampa di sadari oleh masyarakat awam bahwa sampai hari ini kita tetap masih di jajah oleh bangsa asing dengan penjajahan gaya baru yaitu neoliberalisme dan neoimplarisme. Kalau dulu pejuang negeri mengorbankan jiwa, raga, harta dan bendanya untuk mengusir para penjajah. Maka hari ini para pemimpin kita memuaskan jiwa, raga, harta dan bendanya dengan mengundang para penjajah untuk menjajah negeri ini. Menjajah seluruh kekayaan alam negeri ini dan menguasai seluruh fasilitas umum yang kita punya.
Apakah masyarakat indonesia masih percaya dengan pemerintahan ini yang bernaung dalam hukum demokrasi yang katanya kedaulata ada di tangan rakya. Nyatanya apa? kedaulatan itu ada di tangan pemilik modal bukan di tangan rakyat. Maka tunggu apalagi mari kita bergandeng tangan dalam meyerukan penerapan syari’ah islam untuk merubah nasib masyarakat indonesia yang sudah hapir 400 tahun lebih menderita karena penjajahan yang terus meraja lela.

05-06-2015