|
J
|
auh sebelum indonesia
memproklamasikan diri menjadi negara merdeka, rakyat indonesia telah merasakan
pahitnya penderitaan penjajahan dari negara-negara yang menjajahnya seperti
belanda dan jepang. Pengalaman pahit ini lah yang membuat para pejuang rela
mengorbankan harta dan nyawanya demi meraih kemerdekaan indonesia. Hal ini lalu
terbukti dengan lahirnya tokoh-tokoh yang sangat menggebar-gemborkan semangat
untuk meraih kemerdekaan kepada masyarakat. Contohnya saja Soekarno presiden
pertama indonesia itu yang selalu menggunakan semboyan politis dan retorika
manis di setiap pidatonya.
Yang membuat siraman lega pada
masyarakat untuk terus meyujudkan kemerdekaan yang di cita-citakan selama ini.
Namun tampa di sadari masyarakat lupa akan pertanyaan kritis bagaimana cara
praktis agar menghilangkan penderitaan yang telah lama dirasakan masyrakat
indonesia untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidup yang layak.
Apakah setelah merdeka masyarakat harus terus berkorban? Ataukah masyarakat
tinggal berpangku tanggan kepada pemimpin perjuangan dalam meyujutkan
kemakmuran, kesejahteraan, keamanan serta kedamaian secara instan, bin salabin.
Sudah 69 tahun indonesia
merasakan hidup merdeka dari penjajahan nyata dari negara-negara penjajah.
Namun ternya hanya menorehkan prestasi buruk dari tahun ke tahunnya yang
dirasakan mayoritas rakyat indonesia. Masyarakat miskin benar-benar di pelihara
di negeri ini, terbukti kemiskinan semakin merata, pengaguran semakin
bertumpuk, tindakan kriminalitas semakin meraja lela, pendidikan tak membuat
masyarakat bermoral, kesehatan semakin mahal dan hutang negara semakin
membengkak. Siapa yang harus bertanggung jawab atas hal ini. Pemerintah? apakah
mungkin bisa para pemimpin negeri ini yang kebanyakan dari mereka adalah
manusia bermoral bejat dan bermental serakah mengejar kesenangann nafsu dunia.
apakah mungkin mereka mau bertanggung jawab atas semua permasalahan ini, Tidak!
Mereka tidak akan mau. Mereka hanya bisa bilang agar masyarakat harus lebih
sabar, karena negara-negara maju juga merasakan kesensaraan yang sangat lama
sebelum menjadi negara yang maju. Apa lagi sekarang semua subsisdi yang
dianggarkan pemerintah untuk kepentingan publik, seperti subsidi pendidikan,
listrik, BBM, serta kegiatan ekonomi lainnya rencananya akan di cabut, dengan
alasan pemerintah tidak sanggup lagi membiayai semua itu, karena peminpin kita
tidak mau ikut dalam kesengsaraan yang rakyat rasakan saat ini. Jadi, dana APBN
maupun APBD yang disiapkan untuk kesejahteraan rakyat, peningkatan pendidikan,
serta pembinaan masyarakat, mau digunakan untuk apa? Lalu, untuk apa gunanya
ada negara? Bila sudah tidak sanggup, lebih baik Negara di bubarkan saja dan
InsyaAllah Khilafah siap menggantinya.
Sudah dapat kita pastikan bahwa
tidak satu pun pihak yang mau mengakui secara jentelmen dan bertanggung jawab
atas penderiatan dan kemelaratan rakyat
indonesia yang telah merdekah 69 tahun lalu itu. Yang jelas selama 69 tahun ini
lah para pemimpin kita telah mencampakkan islam dan syari’atnya dalam mengatur
kehidupan rumah tangga negara ini. Yang dengan sombongnya mereka menyatakan
bahwa pemisahan agama dari kehidupan bernegara adalah solusi yang tepat untuk
menyatukan seluruh masyarakat indonesia yang banyak menganut kepercayaan agama
yang berbeda-beda.
Apakah mereka lupa bahwa islam
adalah agama sebagai Rahmatan Lil’Allamin, yang aturannya di peruntukkan untuk
seluruh manusia buakan saja umat islam semata-mata. Jelas bahwa kini penderitaan
masyarakat indonesia terus dan terus di timpa penderitaan yang luar biasa. Di
karenakan masyarakat indonesia telah melupakan syari’at islam. Kini tinggal
kita apakah mau terus-menerus merasakan kesensaraan ini atau kembali pada islam
dan syari’atnya menerapkan islam secara menyeluruh di dalam kehidupan ketata
negaraan negara indonesia ini. Mungkin timbul pertanyaan mengapa harus syari’ah
islam? Jawabnya simpel saja, memang ada hukum yang lebih baik dari hukum milik
Allah yang memecahkan problem matika manusia dan kemanusiaan. Jangankan lebih
baik, yang menyetarainya pun tidak ada.
Sebenarnya sampai hari ini pun
indonesia tidak pernah merdeka, karena apa? Karena hari ini tampa di sadari
oleh masyarakat awam bahwa sampai hari ini kita tetap masih di jajah oleh
bangsa asing dengan penjajahan gaya baru yaitu neoliberalisme dan
neoimplarisme. Kalau dulu pejuang negeri mengorbankan jiwa, raga, harta dan
bendanya untuk mengusir para penjajah. Maka hari ini para pemimpin kita
memuaskan jiwa, raga, harta dan bendanya dengan mengundang para penjajah untuk
menjajah negeri ini. Menjajah seluruh kekayaan alam negeri ini dan menguasai
seluruh fasilitas umum yang kita punya.
Apakah masyarakat indonesia masih
percaya dengan pemerintahan ini yang bernaung dalam hukum demokrasi yang
katanya kedaulata ada di tangan rakya. Nyatanya apa? kedaulatan itu ada di
tangan pemilik modal bukan di tangan rakyat. Maka tunggu apalagi mari kita
bergandeng tangan dalam meyerukan penerapan syari’ah islam untuk merubah nasib
masyarakat indonesia yang sudah hapir 400 tahun lebih menderita karena
penjajahan yang terus meraja lela.
05-06-2015