Minggu, 22 November 2015

Suara Rakyat

JANJI TINGGAL JANJI
Oleh: Ranita Sari

Pagi hari yang cerah, seperti biasanya sambil membuka jendela kamar, aku pun berteriak menyapa negeri ini, selamat pagi negeri ku tercinta, hemm..hemm walau pun negeri ini sedang bercampuradol katanya, keadaan ekonominya yang tidak setabil, sistem pemerintahan yang gak jelas, dan kebijakan pemerintahannya pun merugikan dan meyusahkan rakyat...???? tapi aku siap menjalani hari ini dengan semangat 55 aseekk..macem betol aja aku.
Huhhhu...hahaaaa..hal ini cukup menguras energi ku. Ya begini la aku memulai hari sebagai seorang pelajar yang berkarya, berprestasi, periang dan lucu. Tetapi sepertinya pagi ini berbeda dengn pagi-pagi yang lalu, seperti ada yang kurang dari hidup ku hari ini. Tapi apa ya..???aku berfikir sejenak.
Haa.. aku baru ingat ternyata kalau hari ini aku belum mendengar suara ayam ku, “ayam ku” jerit ku panik. Aku pun bergegas kebelakang rumah untuk mencari si jago ayam kesayangan ku, pemberian Ayah sewaktu aku naik kelas. Di belakang rumah, aku bertemu dengan Ibu yang sedang memberi makanan ternak. Aku pun langsung bertanya pada ibu.
Aku     : Ibu  Ayam ku mana ..??? aku bertanya sambil teriak.
Ibu       : Ayam mu yang mana ..?? Ibu menatap sambil heran.
Aku     : Ibu ini, masak sih Ibu tidak tau, si jago la bu. Aku merengut menjawab kesal.
Ibu       : emmhff... si jago. Tenang si jago ada besama dengan ayah mu.
Aku     : emangnya kemana ayah bawak si jago bu.
Ibu       : sudah la, kamu mandi saja sana, nanti kamu telat lagi sekolahnya.
Aku     : yang buat aku telat itu supir angkutnya ibu, bukan akunya.
Ibu       : itulah kamu bisanya menyalahkan orang saja, ga pernah mau di salahkan. Jawab ibu sambil geleng kepala.
Aku     : dengarkan dulu penjelasan ku ibu.
Ibu       : sudah-sudah ibu tidak mau dengar penjelasan mu, yang terpenting kamu sekarang mandi dan sarapan, setelah itu baru kamu pergi kesekolah.
Aku     : aahh...!!! ibu payah. Gak mengerti perasaan anaknya. Jawab ku kesal.
            Si jago belum ketemu, ibu sudah marah-marah. Sebenarnya ada apa ini, kenapa ya ?? aku bingung di zaman globalisasi kayak gini masih aja ada emak-emak merepet pagi-pagi. Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan ekonomi yang tidak menentu. So..?? ibu-ibu rumah tangga jadi rempong, mikirin uang belanja..hehehe.
Aku                 : ehh... kak dewi udah udah rapi aja nih. Mau kemana kak pagi-pagi gini, kan ini hari sabtu, emang kakak kuliah hari ini.
Kak dewi        : bukan urusan mu ?? jawab kak dewi sinis.
Aku                 : sewot kali ko jadi orang. Oh.. ya.  Engkau liat ayah tidak?
Kak dewi        : tumben pagi-pagi engkau cari ayah.. biasanya kan engkau taunya ngurusi ayam mu itu.
Aku                 : yaa.. karena itu la aku cari ayah, ayah bawak si jago kak. Kau liat tidak? Perasaan ku tidak enak ni, aku khawatir si jago kenapa-napa.
Kak dewi        : ayam mu saja kau khawatirin, paling ayah bawak ayam mu ke pasar mau di potong untuk makan siang hehehe.... Jawab kakak sambil tertawa.
Aku                 : ihh..kakak ini. Yang benar saja itu kan hadiah dari ayah untuk aku, masak mau di potong.
Kak dewi        : ya mana la ku tau. Sudah lah aku mau pergi dulu. Mandi kau sana nanti ibu merepet.
            Hemm.. payah semuanya di tanya pada ngaur. Sudahlah aku mandi saja la dulu, nanti setelah pulang sekolah baru aku cari si jago.
            Bu aku berangkat dulu ya Assalamu’alaikum, wa’alaikumsalam kamu hati-hati ya di jalan. Belajarnya yang benar. Ya ibu.
            Mana ya, kok dari tadi gak ada angkot yang lewat, kemana semua supir angkot apa mereka semuanya udah ganti profesi apa ya. Emm... ada-ada saja. Masak si aku harus pulang lagi yang benar saja, apa kata ibu nanti.
itu kan pak jarwo, “pak jarwo mau kemana” jerit ku dengn keras.
Pak Jarwo        : eh kamu, ada apa?? kenapa kamu tidak pergi kesekolah.
Aku                 : iya ni pak dari tadi aku nunggui angkot tak kunjung tiba, kira-kira pak jarwo tau ga kemana angkot-angkot itu? kenapa tak satu pun angkot yang lewat, sebenarnya ada apa ini pak jarwo.
Pak Jarwo        : oww.. mereka pergi berunjuk rasa hari ini, bukan hanya supir angkot tapi hampir semua orang ikut berunjukrasa, bahkan ada yang membawa hewan peliharaannya.
Aku                 : nah loe.. jadi ayah bawak si jago berunjuk rasa toh !!!
Pak Jarwo        : iss..iss kenapa la kamu ini, terkaget-kaget seperti itu.
Aku                 : ia pak jarwo, tadi pagi aku tak mendegar suara si jago, kata ibu sih ayah telah bawa si jago pergi, sekarang aku tau, ternyata ayah bawa si jago berunjukrasa. ihh..ih..ih malangnya nasib si jago, harus berpanas-panas di kurumunan orang-orang. Hemm.. kenapa pak jarwo tidak ikut berunjukrasa juga, mengapa mereka  ada yang membawa hewan peliharaan pak ??
Pak Jarwo        : ya, bapak tidak mau menyia-nyikan waktu untuk hal yang belum tentu ada hasilnya. Bapak hanya ingin jadi penonton saja la. Mengenai hewan yang mereka bawa, mereka merasa kalau suara mereka sudah tak di dengar lagi dengan pemeritah ini. Jadi mereka membawa hewan-hewan peliharaan untuk mengeluarkan suaranya di dalam unjuk rasa, mereka rasa pemerintah ini sifat dan tingkah lakunya sudah sama seperti hewan, jadi gak mempan lagi di komen oleh rakyat.Mungkin akan lebih ampuh jika dengan suara hewan. Bapak kira ya seperti itu.
Aku                 : apa pak jarwo yakin hanya ingin menonton saja, apa pak jarwo tidak ingin ikut serta di dalam unjuk rasa itu. Kata guru saya pak, kita sebagai warga negara yang baik haruslah ikut serta dalam urusan partisipasi politik, yaitu dengan cara memantau jalannya pemerintahan agar tidak terjadi penyelewengan di dalam pemerintahan ini. Bukan hanya dengan melaksanakan pemilu saja pak kita harus berpartisipasi, namun kita  juga harus mengawasi  atau mengkoreksi perilaku pemerintah   dalam mengambil keputusan dan kebijakan.
Pak Jarwo        : nah loe.. kenapa kamu jadinya menceramahi bapak.
Aku                 : ma’af ya pak, itu kan kata guru saya.
Pak Jarwo        : sudah lah bapak mau pergi dulu. “Jawab pak jarwo dengan kesal”.
            Tuhkan…. Pak Jarwo di bilangi malah marah, untung aja aku orangnya penyabar, kalau enggak, kugoni juga pak jarwo itu. “omel ku sok jagoan”.
            Inilah pemerintah katanya di waktu pemilu ingin mensejahterakan rakyat, tapi apa sekarang kenyataannya malah menyengsarakan rakyat. Membuat keputusan yang tidak bersahabat dengan rakyat. Mana janjinya dulu ? yang katanya akan turun jika rakyat tidak puas dengan hasil kerjanya. Jangankan turun dari jabatannya, menurutin keinginan rakyat yang tidak ingin BBM terus naik pun tidak di hiraukan lagi.jadinya semua rakyat merasa terdzalilimi dan merasa tidak percaya dengan system politik yang ada.
            Bagaimana la nasib negeri kita ini jika peminpinnya sudah menjadi otoriter, Dengan mengambil kebijakan atau keputusan yang tidak mengutamakan apa yang di butuhkan oleh rakyat. Emm.. pokoknya aku hari ini harus belajar bersungguh-sungguh agar kelak aku siap jadi agen penerus bangsa yang akan merubah system politik Indonesia ini menjadi yang lebih demokrasi.

CINTA GAK PAKEK MOVE ON



Pertemuan Se Umur Jagung
Oleh: ranita sari

            Pagi itu adalah pagi yang sangat luar biasa bagi Dira, karena hari itu dia akan masuk SMA favorit di daerahnya, setelah menjalani beberapa seleksi akhirnya ia lulus. Tak di sangka gadis kecil itu akhirnya bisa masuk kesekolah favorit, padahal ia haya lulusan dari SMP SWASTA. Hanya beberapa teman SMP yang juga lulus di sekolah favorit itu. Sehingga tak banyak teman yang ia kenal di sekolah barunya itu, tapi karena Dira adalaah anak yang mudah bergaul jadi ia mudah di kenali banyak orang.
            Hari pertaman sekolahnya ia menjalani MOS (masa orientasi siswa) jadi banyak sekali hal-hal yang membuat gadis kecil itu tercengang melihat senior-seniornya yang kejam, seperti neraka rasanya skolahnya itu. Selama tiga hari MOS gadis kecil itu merasakan ketakutan “kalau seniornya saja seperti ini bagai mana lagi guru-gurunya” dalam hati Dira.
            Namun keinginan Dira sekolah di tempat itu sangatlah kuat, Dira tetap terus melanjutkan untuk tetap menimbah ilmu di sekolah itu.
            Hari ini Dira sudah benar-benar menjadi seorang siswi dari SMA favorit itu, karena ia telah melewati masa orientasi siswa yang sangat sulit dan wajib bagi siswa/i yang akan masuk di sekolah itu. Hari demi hari Dira lewati harinya dengan belajar di sekolah itu. Emmm.. ternyata sekolah itu benar-benar jauh dari apa yang ia pikirkan, sekolah itu bukan seperti sekolah yang biasanya yang gurunnya selalu mengarahkan siswa/i ini dan itu. Namu di sini semua yang berperan adalah siswa/i dalam segala bidang, guru hanya sebagai pemantau saja, junior yang belajar dan senior yang mengajar, sekolah itu punya semboyan “belajar hari ini, hari esok pemimpin”. Begitulah kondisi yang berlaku di sekolah itu, siswa di biarkan untuk berkreatif sendiri, “benar-benar pembelajaran yang mandiri sekali”.
            Nah yang lebih mengherankan lagi, Sekolah itu layaknya sebuah pemerintahan, dimana ada exskul yang saling merebut kekuasaan, seperti partai-partai di sebuah pemerintahan. Tapi exskul-exskul itu bukanlah seperti partai-partai yang ingin merebut bangku-bangku DPR seperti di pemerintahan. Yang mereka perebutkan adalah bangku-banku kepengurusan OSIS dan jabatan-jabatan penting yang ada di dalam sekolah maupun luar sekolah.
            Dira merasa tertantang, ingin rasa ia menjadi salah satu bagian dari kepengurusan osis yang baru. Tapi dira haruslah mengikuti salah satu exskul yang ada di sekolah itu, dan akhirnya pilihan dira berfokus di satu exskul yaitu Pramuka. Selai sebagai exskul di sekolah Pramuka adalah orgnisasi yang lingkupnya internasional. Hal ini yang nembuat dira semakin yakin untuk bergabung didalam exskul ini.
            Baru mendaftar exskul saja, dira harus mengantri sangat panjang dan rela berpanas-panasa ini semua di lakukan dira agar ia bisa masuk ke exskul pramuka. Disaat pendaftaran exskul dira berpas-pasan dengan seorang cowok yang ingin juga mendaftar pramuka.
“Hei kamu mau daftar juga ya ??” tanya dira dengan tersenyum, “iya” jawabnya dengan lembut. “Kenalkan nama aku dira nama kamu siapa ??” “nama ku afan”. Di tengah-tengah matahari yang terik dira terus mengantri dan berbincang-bicang dengan afan dengan apa tema barunya yang sangasat lembut itu. Emm.. akhirnya dira dan afan telah mendapatkan kesempatan untuk mendaftar dan akhirnya mereka juga lulus seleksi masuk exskul pramuka.
Hari telah berganti dengan hari,  dira dan afan menjadi teman yang sangat akrab dan mereka juga lulus dan mendapatkan bangku kepengurusan osis di sekolah itu. Hari-hari dira sekarang di hiasi dengan adanya sosok seorang teman yang amat baik. Walau pun mereka berbeda  kelas tapi waktu selalu mempertemukan mereka, dan hapir semua orang tau kalau mereka adalah teman yang akrab. Merekan sering terlihat selalu bersama kemana pun mereka pergi. Mereka benar-benar begitu dekat, “sampai-sampai tiada hari dira tanpa afan”.
Suatu hari afan jatuh sakit, penyakitnya kambuh, namun dira tidak mengetahui hal itu karena afan tidak pernah cerita tentang penyakit yang di deritanya. Berberapa hari afan tak kunjung hadir di sekolah dira khawatir dengan afan, akhirnya dira memutuskan untuk menjenguk  afan keruamanya. Setelah dira sampai di rumah afan ternyata afan tidak ada di ruamah, “afan dirawat di ruamah sakit” kata pembantu rumahnya.
Hati dira sudah mulai tak tenang, dira langsung pergi kerumah sakit untuk menemui afan. Sesampainya di rumah sakit dira melihat banyak kerumunan orang yang ada di depan kamar afan sedang menagis, tampa di sadari air mata dira pun jatuh, dira binggun sebenarnya apa yang sdang terjadi. Dira pun memaksa masuk kekamar afan, ternyata yang dilihat dira adalah tubuh afan yang terbujur kaku. Dira tak bisa berbuat apa-apa, selai hanya bisa menangis dan mengigat masa-masa indahnya bersama afan.
Hancur sudah harapan dira yang ingin bertemu dan berkencerama dengan afan lagi. Kini afan telah tiada, hanya kenangan yang bisa di inggatnya. Namun hati dira masih merasa kecewa karena sampai saat ini dia tidak tau apa penyakit yang di derita oleh sahabatnya. Walau pun persahabatan mereka hanya seumuran jagung tapi afan sangat berkesan di hati dira. Karena afan benar-benar adalah sesosok teman yang sangat smpurna di mata dira.
Sebagai sahabat yang baik dira selalu mendo’akan afan di dalam sholatnya agar kelak ia akan di pertemukan di surga, dan ia juga berharap agar Allah akan mempertemukan ia dengan seesosok orang yang seperti afan di kemudian hari nanti.
Walau pun afan telah tiada dari dunia yang pana ini namun afan tetap akan hidup dalam hati dira...selamat jalan afan, dira akan selalu mengenang mu.