JANJI TINGGAL JANJI
Oleh: Ranita Sari
Pagi hari yang cerah, seperti biasanya sambil membuka
jendela kamar, aku pun berteriak menyapa negeri ini, selamat pagi negeri ku
tercinta, hemm..hemm walau pun negeri ini sedang bercampuradol katanya, keadaan
ekonominya yang tidak setabil, sistem pemerintahan yang gak jelas, dan
kebijakan pemerintahannya pun merugikan dan meyusahkan rakyat...???? tapi aku
siap menjalani hari ini dengan semangat 55 aseekk..macem betol aja aku.
Huhhhu...hahaaaa..hal ini cukup menguras energi ku. Ya
begini la aku memulai hari sebagai seorang pelajar yang berkarya, berprestasi,
periang dan lucu. Tetapi sepertinya pagi ini berbeda dengn pagi-pagi yang lalu,
seperti ada yang kurang dari hidup ku hari ini. Tapi apa ya..???aku berfikir sejenak.
Haa.. aku baru ingat ternyata kalau hari ini aku belum
mendengar suara ayam
ku, “ayam ku” jerit ku panik. Aku pun bergegas kebelakang rumah untuk mencari
si jago ayam kesayangan ku, pemberian Ayah sewaktu aku naik kelas. Di belakang
rumah, aku bertemu
dengan Ibu yang sedang memberi makanan ternak. Aku pun langsung bertanya pada
ibu.
Ibu :
Ayam mu yang mana ..?? Ibu menatap sambil heran.
Aku :
Ibu ini, masak sih Ibu tidak tau, si jago la bu. Aku merengut menjawab kesal.
Ibu :
emmhff... si jago. Tenang si jago ada besama dengan ayah mu.
Aku :
emangnya kemana ayah bawak si jago bu.
Ibu :
sudah la, kamu mandi saja sana, nanti kamu telat lagi sekolahnya.
Aku :
yang buat aku telat itu supir angkutnya ibu, bukan akunya.
Ibu :
itulah kamu bisanya menyalahkan orang saja, ga pernah mau di salahkan. Jawab ibu sambil geleng
kepala.
Aku :
dengarkan dulu penjelasan ku ibu.
Ibu :
sudah-sudah ibu tidak mau dengar penjelasan mu, yang terpenting kamu sekarang mandi dan
sarapan, setelah itu baru kamu pergi kesekolah.
Aku :
aahh...!!! ibu payah. Gak mengerti perasaan anaknya. Jawab ku kesal.
Si
jago belum ketemu, ibu sudah marah-marah. Sebenarnya ada apa ini, kenapa ya ??
aku bingung di zaman globalisasi kayak gini masih aja ada emak-emak merepet
pagi-pagi. Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan ekonomi yang tidak
menentu. So..?? ibu-ibu rumah tangga jadi rempong, mikirin uang belanja..hehehe.
Aku : ehh... kak dewi udah udah rapi aja
nih. Mau kemana kak pagi-pagi gini, kan ini hari sabtu, emang kakak kuliah hari ini.
Kak dewi : bukan urusan mu ?? jawab kak dewi sinis.
Aku : sewot kali ko jadi orang. Oh.. ya. Engkau liat ayah tidak?
Kak dewi : tumben pagi-pagi engkau cari ayah.. biasanya kan engkau
taunya ngurusi ayam mu itu.
Aku :
yaa.. karena itu la aku cari ayah, ayah bawak si jago kak. Kau liat tidak? Perasaan ku tidak enak ni,
aku khawatir si jago
kenapa-napa.
Kak dewi : ayam mu saja kau khawatirin, paling ayah bawak ayam mu ke
pasar mau di potong untuk makan siang hehehe.... Jawab kakak sambil tertawa.
Aku :
ihh..kakak ini. Yang benar saja itu kan hadiah dari ayah untuk aku, masak mau di potong.
Kak dewi : ya mana la ku tau. Sudah lah aku mau pergi dulu. Mandi kau
sana nanti ibu merepet.
Hemm..
payah semuanya di tanya pada ngaur. Sudahlah aku mandi saja la dulu, nanti setelah pulang
sekolah baru aku cari si jago.
Bu
aku berangkat dulu ya Assalamu’alaikum, wa’alaikumsalam kamu hati-hati ya di
jalan. Belajarnya yang benar. Ya ibu.
Mana
ya, kok dari tadi gak ada angkot yang lewat, kemana semua supir angkot apa
mereka semuanya udah ganti profesi apa ya. Emm... ada-ada saja. Masak si aku
harus pulang lagi yang benar saja, apa kata ibu nanti.
itu kan pak jarwo, “pak jarwo mau
kemana” jerit ku dengn keras.
Pak Jarwo : eh kamu, ada apa?? kenapa kamu tidak pergi kesekolah.
Aku :
iya ni pak dari tadi aku nunggui angkot tak kunjung tiba, kira-kira pak jarwo tau ga
kemana angkot-angkot itu? kenapa
tak satu pun angkot yang lewat, sebenarnya ada apa ini pak jarwo.
Pak Jarwo : oww.. mereka pergi berunjuk rasa hari ini, bukan hanya
supir angkot tapi hampir semua orang ikut berunjukrasa, bahkan ada yang membawa
hewan peliharaannya.
Aku :
nah loe.. jadi ayah bawak si jago berunjuk rasa toh !!!
Pak Jarwo : iss..iss kenapa la kamu ini, terkaget-kaget seperti itu.
Aku :
ia pak jarwo, tadi pagi aku tak mendegar suara si jago, kata ibu sih ayah telah
bawa si jago pergi, sekarang aku tau, ternyata ayah bawa si jago berunjukrasa.
ihh..ih..ih malangnya nasib si jago, harus berpanas-panas di kurumunan
orang-orang. Hemm.. kenapa pak jarwo tidak ikut berunjukrasa juga, mengapa
mereka ada yang membawa hewan peliharaan
pak ??
Pak Jarwo : ya, bapak tidak mau menyia-nyikan waktu untuk hal yang belum
tentu ada hasilnya. Bapak hanya ingin jadi penonton saja la. Mengenai hewan
yang mereka bawa, mereka merasa kalau suara mereka sudah tak di dengar lagi
dengan pemeritah ini. Jadi mereka membawa hewan-hewan peliharaan untuk
mengeluarkan suaranya di dalam unjuk rasa, mereka rasa pemerintah ini sifat dan tingkah lakunya sudah
sama seperti hewan, jadi gak mempan lagi di komen oleh rakyat.Mungkin akan lebih ampuh jika dengan
suara hewan. Bapak kira ya seperti itu.
Aku :
apa pak jarwo yakin hanya ingin menonton saja, apa pak jarwo tidak ingin ikut serta di dalam unjuk rasa
itu. Kata guru saya pak, kita sebagai warga negara yang baik haruslah
ikut serta dalam urusan partisipasi politik, yaitu dengan cara memantau
jalannya pemerintahan agar tidak terjadi penyelewengan di dalam pemerintahan
ini. Bukan hanya dengan melaksanakan pemilu saja pak kita harus berpartisipasi,
namun kita juga harus mengawasi atau mengkoreksi perilaku pemerintah dalam mengambil keputusan dan kebijakan.
Pak Jarwo : nah loe.. kenapa kamu jadinya menceramahi bapak.
Aku :
ma’af ya pak, itu kan kata guru saya.
Pak Jarwo : sudah lah bapak mau pergi dulu. “Jawab pak jarwo dengan
kesal”.
Tuhkan…. Pak Jarwo di bilangi malah marah, untung aja
aku orangnya penyabar, kalau enggak, kugoni juga pak jarwo itu. “omel ku sok jagoan”.
Inilah
pemerintah katanya di waktu pemilu ingin mensejahterakan rakyat, tapi apa sekarang
kenyataannya malah menyengsarakan
rakyat. Membuat keputusan yang tidak bersahabat dengan rakyat. Mana janjinya
dulu ? yang katanya
akan turun jika rakyat tidak puas dengan hasil kerjanya. Jangankan turun dari jabatannya,
menurutin keinginan rakyat yang tidak ingin BBM terus naik pun tidak di
hiraukan lagi.jadinya semua rakyat merasa terdzalilimi dan merasa tidak percaya dengan
system politik yang ada.
Bagaimana
la nasib negeri kita ini jika peminpinnya sudah menjadi otoriter, Dengan mengambil kebijakan atau keputusan yang tidak mengutamakan apa yang di
butuhkan oleh rakyat. Emm.. pokoknya aku hari ini harus belajar
bersungguh-sungguh agar kelak aku siap jadi agen penerus bangsa yang akan
merubah system politik
Indonesia ini menjadi yang lebih demokrasi.