Minggu, 22 November 2015

CINTA GAK PAKEK MOVE ON



Pertemuan Se Umur Jagung
Oleh: ranita sari

            Pagi itu adalah pagi yang sangat luar biasa bagi Dira, karena hari itu dia akan masuk SMA favorit di daerahnya, setelah menjalani beberapa seleksi akhirnya ia lulus. Tak di sangka gadis kecil itu akhirnya bisa masuk kesekolah favorit, padahal ia haya lulusan dari SMP SWASTA. Hanya beberapa teman SMP yang juga lulus di sekolah favorit itu. Sehingga tak banyak teman yang ia kenal di sekolah barunya itu, tapi karena Dira adalaah anak yang mudah bergaul jadi ia mudah di kenali banyak orang.
            Hari pertaman sekolahnya ia menjalani MOS (masa orientasi siswa) jadi banyak sekali hal-hal yang membuat gadis kecil itu tercengang melihat senior-seniornya yang kejam, seperti neraka rasanya skolahnya itu. Selama tiga hari MOS gadis kecil itu merasakan ketakutan “kalau seniornya saja seperti ini bagai mana lagi guru-gurunya” dalam hati Dira.
            Namun keinginan Dira sekolah di tempat itu sangatlah kuat, Dira tetap terus melanjutkan untuk tetap menimbah ilmu di sekolah itu.
            Hari ini Dira sudah benar-benar menjadi seorang siswi dari SMA favorit itu, karena ia telah melewati masa orientasi siswa yang sangat sulit dan wajib bagi siswa/i yang akan masuk di sekolah itu. Hari demi hari Dira lewati harinya dengan belajar di sekolah itu. Emmm.. ternyata sekolah itu benar-benar jauh dari apa yang ia pikirkan, sekolah itu bukan seperti sekolah yang biasanya yang gurunnya selalu mengarahkan siswa/i ini dan itu. Namu di sini semua yang berperan adalah siswa/i dalam segala bidang, guru hanya sebagai pemantau saja, junior yang belajar dan senior yang mengajar, sekolah itu punya semboyan “belajar hari ini, hari esok pemimpin”. Begitulah kondisi yang berlaku di sekolah itu, siswa di biarkan untuk berkreatif sendiri, “benar-benar pembelajaran yang mandiri sekali”.
            Nah yang lebih mengherankan lagi, Sekolah itu layaknya sebuah pemerintahan, dimana ada exskul yang saling merebut kekuasaan, seperti partai-partai di sebuah pemerintahan. Tapi exskul-exskul itu bukanlah seperti partai-partai yang ingin merebut bangku-bangku DPR seperti di pemerintahan. Yang mereka perebutkan adalah bangku-banku kepengurusan OSIS dan jabatan-jabatan penting yang ada di dalam sekolah maupun luar sekolah.
            Dira merasa tertantang, ingin rasa ia menjadi salah satu bagian dari kepengurusan osis yang baru. Tapi dira haruslah mengikuti salah satu exskul yang ada di sekolah itu, dan akhirnya pilihan dira berfokus di satu exskul yaitu Pramuka. Selai sebagai exskul di sekolah Pramuka adalah orgnisasi yang lingkupnya internasional. Hal ini yang nembuat dira semakin yakin untuk bergabung didalam exskul ini.
            Baru mendaftar exskul saja, dira harus mengantri sangat panjang dan rela berpanas-panasa ini semua di lakukan dira agar ia bisa masuk ke exskul pramuka. Disaat pendaftaran exskul dira berpas-pasan dengan seorang cowok yang ingin juga mendaftar pramuka.
“Hei kamu mau daftar juga ya ??” tanya dira dengan tersenyum, “iya” jawabnya dengan lembut. “Kenalkan nama aku dira nama kamu siapa ??” “nama ku afan”. Di tengah-tengah matahari yang terik dira terus mengantri dan berbincang-bicang dengan afan dengan apa tema barunya yang sangasat lembut itu. Emm.. akhirnya dira dan afan telah mendapatkan kesempatan untuk mendaftar dan akhirnya mereka juga lulus seleksi masuk exskul pramuka.
Hari telah berganti dengan hari,  dira dan afan menjadi teman yang sangat akrab dan mereka juga lulus dan mendapatkan bangku kepengurusan osis di sekolah itu. Hari-hari dira sekarang di hiasi dengan adanya sosok seorang teman yang amat baik. Walau pun mereka berbeda  kelas tapi waktu selalu mempertemukan mereka, dan hapir semua orang tau kalau mereka adalah teman yang akrab. Merekan sering terlihat selalu bersama kemana pun mereka pergi. Mereka benar-benar begitu dekat, “sampai-sampai tiada hari dira tanpa afan”.
Suatu hari afan jatuh sakit, penyakitnya kambuh, namun dira tidak mengetahui hal itu karena afan tidak pernah cerita tentang penyakit yang di deritanya. Berberapa hari afan tak kunjung hadir di sekolah dira khawatir dengan afan, akhirnya dira memutuskan untuk menjenguk  afan keruamanya. Setelah dira sampai di rumah afan ternyata afan tidak ada di ruamah, “afan dirawat di ruamah sakit” kata pembantu rumahnya.
Hati dira sudah mulai tak tenang, dira langsung pergi kerumah sakit untuk menemui afan. Sesampainya di rumah sakit dira melihat banyak kerumunan orang yang ada di depan kamar afan sedang menagis, tampa di sadari air mata dira pun jatuh, dira binggun sebenarnya apa yang sdang terjadi. Dira pun memaksa masuk kekamar afan, ternyata yang dilihat dira adalah tubuh afan yang terbujur kaku. Dira tak bisa berbuat apa-apa, selai hanya bisa menangis dan mengigat masa-masa indahnya bersama afan.
Hancur sudah harapan dira yang ingin bertemu dan berkencerama dengan afan lagi. Kini afan telah tiada, hanya kenangan yang bisa di inggatnya. Namun hati dira masih merasa kecewa karena sampai saat ini dia tidak tau apa penyakit yang di derita oleh sahabatnya. Walau pun persahabatan mereka hanya seumuran jagung tapi afan sangat berkesan di hati dira. Karena afan benar-benar adalah sesosok teman yang sangat smpurna di mata dira.
Sebagai sahabat yang baik dira selalu mendo’akan afan di dalam sholatnya agar kelak ia akan di pertemukan di surga, dan ia juga berharap agar Allah akan mempertemukan ia dengan seesosok orang yang seperti afan di kemudian hari nanti.
Walau pun afan telah tiada dari dunia yang pana ini namun afan tetap akan hidup dalam hati dira...selamat jalan afan, dira akan selalu mengenang mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar