Pertemuan
Se Umur Jagung
Oleh:
ranita sari
Pagi itu adalah pagi yang sangat
luar biasa bagi Dira, karena hari itu dia akan masuk SMA favorit di daerahnya,
setelah menjalani beberapa seleksi akhirnya ia lulus. Tak di sangka gadis kecil
itu akhirnya bisa masuk kesekolah favorit, padahal ia haya lulusan dari SMP
SWASTA. Hanya beberapa teman SMP yang juga lulus di sekolah favorit itu. Sehingga
tak banyak teman yang ia kenal di sekolah barunya itu, tapi karena Dira adalaah
anak yang mudah bergaul jadi ia mudah di kenali banyak orang.
Hari pertaman sekolahnya ia
menjalani MOS (masa orientasi siswa) jadi banyak sekali hal-hal yang membuat
gadis kecil itu tercengang melihat senior-seniornya yang kejam, seperti neraka
rasanya skolahnya itu. Selama tiga hari MOS gadis kecil itu merasakan ketakutan
“kalau seniornya saja seperti ini bagai mana lagi guru-gurunya” dalam hati Dira.
Namun keinginan Dira sekolah di
tempat itu sangatlah kuat, Dira tetap terus melanjutkan untuk tetap menimbah
ilmu di sekolah itu.
Hari ini Dira sudah benar-benar
menjadi seorang siswi dari SMA favorit itu, karena ia telah melewati masa
orientasi siswa yang sangat sulit dan wajib bagi siswa/i yang akan masuk di
sekolah itu. Hari demi hari Dira lewati harinya dengan belajar di sekolah itu.
Emmm.. ternyata sekolah itu benar-benar jauh dari apa yang ia pikirkan, sekolah
itu bukan seperti sekolah yang biasanya yang gurunnya selalu mengarahkan
siswa/i ini dan itu. Namu di sini semua yang berperan adalah siswa/i dalam
segala bidang, guru hanya sebagai pemantau saja, junior yang belajar dan senior
yang mengajar, sekolah itu punya semboyan “belajar hari ini, hari esok
pemimpin”. Begitulah kondisi yang berlaku di sekolah itu, siswa di biarkan
untuk berkreatif sendiri, “benar-benar pembelajaran yang mandiri sekali”.
Nah
yang lebih mengherankan lagi, Sekolah itu layaknya sebuah pemerintahan, dimana
ada exskul yang saling merebut kekuasaan, seperti partai-partai di sebuah
pemerintahan. Tapi exskul-exskul itu bukanlah seperti partai-partai yang ingin
merebut bangku-bangku DPR seperti di pemerintahan. Yang mereka perebutkan
adalah bangku-banku kepengurusan OSIS dan jabatan-jabatan penting yang ada di
dalam sekolah maupun luar sekolah.
Dira merasa tertantang, ingin rasa
ia menjadi salah satu bagian dari kepengurusan osis yang baru. Tapi dira
haruslah mengikuti salah satu exskul yang ada di sekolah itu, dan akhirnya
pilihan dira berfokus di satu exskul yaitu Pramuka. Selai sebagai exskul di
sekolah Pramuka adalah orgnisasi yang lingkupnya internasional. Hal ini yang
nembuat dira semakin yakin untuk bergabung didalam exskul ini.
Baru mendaftar exskul saja, dira harus
mengantri sangat panjang dan rela berpanas-panasa ini semua di lakukan dira
agar ia bisa masuk ke exskul pramuka. Disaat pendaftaran exskul dira
berpas-pasan dengan seorang cowok yang ingin juga mendaftar pramuka.
“Hei
kamu mau daftar juga ya ??” tanya dira dengan tersenyum, “iya” jawabnya dengan
lembut. “Kenalkan nama aku dira nama kamu siapa ??” “nama ku afan”. Di
tengah-tengah matahari yang terik dira terus mengantri dan berbincang-bicang
dengan afan dengan apa tema barunya yang sangasat lembut itu. Emm.. akhirnya
dira dan afan telah mendapatkan kesempatan untuk mendaftar dan akhirnya mereka
juga lulus seleksi masuk exskul pramuka.
Hari
telah berganti dengan hari, dira dan
afan menjadi teman yang sangat akrab dan mereka juga lulus dan mendapatkan
bangku kepengurusan osis di sekolah itu. Hari-hari dira sekarang di hiasi
dengan adanya sosok seorang teman yang amat baik. Walau pun mereka berbeda kelas tapi waktu selalu mempertemukan mereka,
dan hapir semua orang tau kalau mereka adalah teman yang akrab. Merekan sering
terlihat selalu bersama kemana pun mereka pergi. Mereka benar-benar begitu
dekat, “sampai-sampai tiada hari dira tanpa afan”.
Suatu
hari afan jatuh sakit, penyakitnya kambuh, namun dira tidak mengetahui hal itu
karena afan tidak pernah cerita tentang penyakit yang di deritanya. Berberapa
hari afan tak kunjung hadir di sekolah dira khawatir dengan afan, akhirnya dira
memutuskan untuk menjenguk afan
keruamanya. Setelah dira sampai di rumah afan ternyata afan tidak ada di
ruamah, “afan dirawat di ruamah sakit” kata pembantu rumahnya.
Hati
dira sudah mulai tak tenang, dira langsung pergi kerumah sakit untuk menemui
afan. Sesampainya di rumah sakit dira melihat banyak kerumunan orang yang ada
di depan kamar afan sedang menagis, tampa di sadari air mata dira pun jatuh,
dira binggun sebenarnya apa yang sdang terjadi. Dira pun memaksa masuk kekamar
afan, ternyata yang dilihat dira adalah tubuh afan yang terbujur kaku. Dira tak
bisa berbuat apa-apa, selai hanya bisa menangis dan mengigat masa-masa indahnya
bersama afan.
Hancur
sudah harapan dira yang ingin bertemu dan berkencerama dengan afan lagi. Kini
afan telah tiada, hanya kenangan yang bisa di inggatnya. Namun hati dira masih
merasa kecewa karena sampai saat ini dia tidak tau apa penyakit yang di derita
oleh sahabatnya. Walau pun persahabatan mereka hanya seumuran jagung tapi afan
sangat berkesan di hati dira. Karena afan benar-benar adalah sesosok teman yang
sangat smpurna di mata dira.
Sebagai
sahabat yang baik dira selalu mendo’akan afan di dalam sholatnya agar kelak ia
akan di pertemukan di surga, dan ia juga berharap agar Allah akan mempertemukan
ia dengan seesosok orang yang seperti afan di kemudian hari nanti.
Walau
pun afan telah tiada dari dunia yang pana ini namun afan tetap akan hidup dalam
hati dira...selamat jalan afan, dira akan selalu mengenang mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar